Nusantara-Indonesia Leadership Camp 2013, Univ. Indonesia


Foto 

Selasa, 3 September 2013, sembilan delegasi Universitas Sebelas maret berangkat menuju Depok, dengan tujuan utama Universitas Indonesia (UI). Kami  akan mengikuti pelatihan kepemimpinan atau yang sering disebut Leadership Camp. Program yang diselenggarakan oleh IleaD Universitas Indonesia ini diselenggarakan langsung oleh bagian Kemahasiswaan UI.

Program ini adalah program keempat yang telah diselenggarakan sejak tahun 2010, dan telah melulusan lebih dari 400 pemuda dengan paradigma dan orientasi gerakan baru, gerakan untuk membangun Indonesia. Namun, ada yang sangat istimewa dalam ILC 2013 ini, karena seperti yang telah tertulis dalam judul, tahun ini nama ILC di-merger dengan program lain yang dinamai Nusantara Leadership Camp (NLC), yang berusaha menghimpun peserta dari negara-negara anggota ASEAN terutama yang masih termasuk satu rumpun, serantau – dalam bahasa melayu. Tanah Nusantara, rantau Nusantara.

Program yang dilaksanakan selama lima hari ini dihadiri oleh 100 mahasiswa  dari Indonesia yang telah melewati seleksi dari 338 applicant, 20 mahasiswa dari beberapa Universitas terbaikdi Malaysia, dan 5 mahasiswa dari Thailand. Kemudian dari 125 mahasiswa ini, 13 finalis terbaik diberi kesempatan untuk memresentasikan social enterpreneur project dan social program yang telah mereka susun sebelumnya sebagai syarat mengikuti ILC – NLC 2013. Terpilihlah 3 terbaik dari kategori social enterpreneur project dan 3 terbaik social program, 3 peserta terbaik, dan 1 peserta sebagai Best Essay.

Hari pertama, Rabu, pembukaan ILC-NLC 2013 telah bersuasana megah di balai sidang UI. Dihadiri oleh rektor UI, beberapa pembicara dari Indonesia dan Malaysia, Presiden Serikat Transformasi Serantau (STS), dan yang lebih membuat acara ini ‘berasa’ internasional adalah hadirnya perwakilan dari Senator Malaysia. Dekorasi dan sound effect garapan panitia juga sangat menunjukkan bahwa acara ILC-NLC 2013 adalah acara resmi yang bukan main-main dengan luaran tunas-tunas pemimpin yang siap membesarkan komunitas negara-negara di ASEAN, menyongsong ASEAN Community yang sedang ramai dibicarakan akhir-akhir ini.

Setelah Grand Opening, dilanjutkan dengan beberapa sambutan singkat dan berisi berat dari berbagai ‘guru’ dengan latar ilmu, lingkungan, dan pandangan yang berbeda, namun tetap dalam satu visi yang sama, membina pemuda dari seluruh Nusantara menuju satu pemahaman akan kepemimpinan yang benar, kepemimpinan yang menghidupkan. Kemudian acara dilanjutkan dengan Seminar Nusantara dengan pemateri Dr Wan Muhammad Noor Wan Daud – mantan ketua persatuan mahasiswa muslim  Malaysia, Amerika, dan Canada, Dr Yon Machmudi – salah satu founder IleaD UI, dan Dr Abdurakhman – akademisi yang konsen dengan isu komunitas keagamaan tingkat internasional. Menjelang malam ditutup dengan Soft Side Leadership Training oleh Arief Munandar, trainer inspirasional dengan gaya yang keras, tidak bisa lembut.

Dalam paparannya yang panjang, Dr Arief Munandar membuka dengan satu judul besar yang membuat seluruh ruangan menjadi bergairah, Lead the Thought, Stretch the Limit and Win the War. Benar, dalam tahun millenium abad 21 ini, peperangan bukan lagi dengan fisik, tapi nyata terwujud dalam bentuk  perang ideologis, siapa yang mampu menguasai dunia dengan ideologinya, maka dialah yang akan memenangkan Perang Akhir Dunia suatu saat nanti. Dalam bahasa nasihat Mahatma Gandhi, takdir manusia adalah apa yang mereka pikirkan (ideologi dan kepercayaan).

Mengakhiri hari kedua, ada satu hal yang saya sambungkan sebagai sebuah simpul untuk merangkum sebuah inti. Mahasiswa Malaysia semuanya memakai jas dengan kemeja formal, dan sangat rapi. Secara tidak langsung ini adalah propaganda yang menunjukkan derajat attitude sebuah negara dalam mengikuti sebuah kegiatan formal. Seluruh panitia ILC-NLC 2013 bekerja dengan profesional, well organized, dan juga menggunakan jas. Ini menunjukan bahwa mahasiswa UI seolah ingin menunjukkan bahwa sebagai UI, acara ini harus dilaksanakan secara profesional dengan standar internasional. Pandangan kita (mahasiswa UNS) akan terbuka dalam sebuah agenda berskala nasional.

Hari kedua, kami kedatangan dua tamu terhormat, satu adalah salah satu lulusan terbaik UI, Dr Shofwan Albana Choiruzzad, pemuda lulusan luar negeri dengan gagasan dan hati aktivis untuk Indonesia. Pembicara kedua adalah Mohammad Ezam Noor, salah satu perwakilan dari senat Malaysia yang disebut Ahli Dewan Negara. Talkshow pagi itu berlangsung segar dengan gagasan-gagasan oleh Dr Shofwan Albana yang sangat memahami sejarah, selalu memulai opininya dengan sebuah refleksi sejarah dan membandingkannya dengan masa kekinian. Pemahaman akan sejarah, menunjukkan bahwa seseorang mempunyai wawasan yang sangat luas, ilmu yang tinggi. Talkshow ini dimoderatori oleh presenter lulusan UI yang saat ini aktif sebagai pembaca acara berita di salah satu media televisi nasional, Mega Novelia.

Setelah talkshow yang menyegarkan pagi kami, selepas matahari meninggi, kami disuguhi satu lagi training motivasi dengan brand yang telah dikenal diseluru dunia, Emotional Spiritual Quotient (ESQ) Training. Meski pernah mengikuti training serupa yang diselenggarakan oleh UNS saat pertama kali menjadi mahasiswa, namun training ESQ kali ini dibungkus dengan pengantar dan isi yang berbeda, materi yang totally different. Materi yang  merujuk pada pemaknaan sebagai Leader yang seharusnya, untuk dapat memimpin diri, dan orang lain. Intinya pada sebuah pemahaman agar kita tidak tersesat menjadi satu dari tiga tipe kepemimpinan – Un-ethical leader, Unstable leader, dan Hypocrite leader – dan diharapkan menjadi seorang Great Leader, untuk mengawal diri dan lingkungan menuju kepemimpinan yang menyejahterakan.

Pemateri muda penuh inspirasi, Goris Mustaqim hadir mengisi sela waktu salat ashar dan salat maghrib. Lulusan Institut Teknologi Bandung ini lebih terkenal dengan gerakan Asgar Muda-nya, Asli Garut Muda, sebuah gerakan berkonsep social enterprise yang mengeksplor segala potensi dan peluang pemberdayaan sosial, untuk kemudian hasil akhirnya dijadikan sebagai produk bisnis yang pada akhirnya keuntungan terbesar akan dinikmati oleh seluruh kalangan masyarakat yang terlibat. Sebenarnya gerakan semacam ini bukanlah gagasan baru, telah ditemukan bertahun-tahun yang lalu oleh Prof Muhammad Yunus yang berhasil mengangkat jutaan rakyat miskin di Bangladesh sehingga dapat berjuang untuk hidup yang lebih layak.

Setelah petang telah merata, kami harus segera membuat otak kami menjadi fokus kembali. Pasalnya, paska ini akan dihadirkan tiga praktisi yang telah nyata berhasil dalam meujudkan misi mulianya, social enterprise. Inspirational Dialog, bersama Amirul Haji Muhammad – pengusaha Dinar dan Dirham, Yovita Salisy Aulia – co-founder Nalacity Foundation, dan Baban Sarbana – founder Yatim Online. Tentulah inspiratif karena Nalacity adalah project yang menjadi pemenang di ILC pertama, dan sekarang telah berdiri mandiri tanpa menghilangkan esensi social enterprise.

Sekedar penjelasan, Nalacity Foundation adalah program social enterprise yang berupaya memberdayakan ibu-ibu mantan penderita kusta untuk  memproduksi jilbab dan menjualnya. Ada sebuah daerah di Tangerang bernama Sitanala yang merupakan daerah para mantan penderita kusta. Nalacity memberikan pelatihan, memberitas keseluruhan fasilitas hingga ibu-ibu mantan penderita kusta dapat membuat jilbab yang berkualitas. Selain itu, proses pemasarannya pun dikelola oleh Nalacity Foundation. Dengan adanya program ini, para mantan penderita kusta mendapatkan penghasilan tambahan untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Menginjak pukul sembilan, masuk agenda selanjutnya, yaitu bedah film inspiratif. Kami kedatangan aktor senior, produser, sutradara, sekaligus ahli perfilman, Slamet Raharjo, akan memberikan beberapa pencerahan sekaligus makna dari film yang akan kami bedah, film lama yang menggugah nasionalisme kami, Tjoet Nyak Dhien. Slamet Raharjo mengatakan picture dan image berbeda, ketika menggarap film, bagaimana kita dapat menangkap sebuah image, maksudnya adalah sebuah pesan dari sebuah gambar, bukan hanya gambar kosong. Image berarti sebuah gambar yang bicara.

Hari ditutup dengan ide berloncatan. Hari yang luar biasa, dengan pemateri yang luar biasa, dan ilmu yang luar biasa. Esok paginya, kami turun ke jalan, menggali intisari dunia dari alam, meresapi arti kepemimpinan, dari alam – lewat outbond. Didampingi Resimen Mahasiswa UI sebagai fasilitator, saya melewati berbegai game  yang tidak pernah saya lakukan, game yang tidak main-main, dalam dan banyak yang dapat kami pahami. Kerjasama, kerjakeras, strategi, kejujuran, rasa percaya, dan tanggung jawab. Senja mengakhiri keceriaan kami dengan game paling keren yang pernah saya ikuti, membuat rakit dan mengarungi danau artifisial UI. Satu yang saya simpulkan, kita harus serius, dalam bermain.

1379775_10201553890282380_33291439_n 1240475_719038341443889_1802299441_n

Student conference, menggairahkan kami dan menghapus segala penat. Bagaimana tidak? Seluruh peserta ILC-NLC yang telah saya petakan, mayoritas adalah anak-anak Badan Eksekutif Mahasiswa. Bisa dibayangkan jika disandingkan dalam sebuah battle argumen yang keras dengan tingkat egoisme dan individualisme yang tinggi. Acara ini dimoderatori oleh Dr Shofwan Albanna. Tensi memanas, hingga bilangan sebelas, belum juga tuntas mencapai satu kesimpulan. Ini seperti medan peperangan ideologi, pengetahuan, dan pemahaman diri. Sebuah seni pertahanan eksistensi diri, walau dalam beberapa kali, lebih mirip debat kusir. Tapi saya yakin semuanya mencapai satu pemahaman, bahwa banyak sekali perbedaan di dunia, perbedaan yang cukup untuk terjadi sebuah pembunuhan. Oleh karena itu, kita semua harus bersikap ksatria untuk dapat menemukan lebih banyak kesamaan, untuk dunia yang lebih baik.

1003801_645711842115470_571915877_n 1003801_645711842115470_571915877_n 1069428_10201553898962597_276601762_n 547831_10201553901162652_1073910286_n 1174708_699444523404746_1300583858_n

Institutional visit, dalam kamus Cambridge, intitution berarti pengenalan akan sebuah sistem, hukum, dan lainnya. Benarlah nama kegiatan pagi ini, karena kami benar-benar dibedah dan dibuka pandangannya di Rumah Perubahan, sebuah social enterprise yang telah berdiri sejak tahun 2000-an. Program yang digagas oleh guru besar UI, Prof Rhenald Kasali ini saat ini telah mempunyai satu TK yang fokus menerima anak-anak dari golongan keluarga kurang mampu, dan satu Perpustakaan yang terbuka bebas untuk masyarakat, serta sebuah kompleks terpadu pertanian, teknologi, dan institusi keilmuan diatas tanah seluas 5 hektar. Kompleks ini sendiri telah dibuka untuk umum dan menerima pelatihan khusus di bidang social enterprise untuk instiusi pendidikan maupun korporasi. Memprodukdi biogas yang dihasilkan dari beberapa sapi yang dimiliki, tempat pemancingan, pengolahan air embun, area outbond, kolam enceng gondok, dan rumah tempe yang berkonsep higienis dan bermutu tinggi karena direndam dengan menggunakan air embun. Rumah Perubahan Rhenald Kasali, benar-benar membuat pandangan kami berubah, terutama setelah diskusi lebih dari satu jam bersama sang guru besar secara langsung.

1262699_698571610157609_1359355732_o 1270388_10201390291671920_1498046434_o

Malamnya adalah malam puncak, Kenduri Nusantara. Digelar dengan agung dan mewah bertempat di Hotel Crowne Plaza, ini adalah agenda termewah yang pernah saya ikuti. Delegesi UNS diberi kesempatan untuk menampilkan drama dan tari Dolanan, sebuah ide yang terinspirasi oleh Festival Dolanan yang pernah diselenggarakan di UNS. Malam Kenduri Nusantara juga dihadiri oleh beberapa pembicara yang memimpin sesi talkshow dengan sangat baik. Yohanes Surya, Neno Warisman, Shohibul Iman, dan Arief Munandar, serta satu pembicara asal Malaysia, mengisi malam kami dengan penuh isi dan pengetahuan baru, mengenai kepemimpinan yang seharusnya, kepemimpinan yang dibutuhkan Nusantara.

Hari terakhir ILC-NLC 2013, dilengkapi dengan presentasi para finalis yang terpilih dengan juri Andreas Sanjaya – founder Nalacity Foundation, Prof Misri – ketua IleaD UI, dan juri lainnya yang berkompeten. Presentasi berlangsung lancar dan baik, selepas ashar pengumuman pemenang dilakukan dan suasana jadi gegap gempita bagi kami semua – peserta ILC-NLC, ini adalah kemenangan bersama.

Semua peserta naik keatas panggung Ruang Seminar Utama FHUI, berfoto bersama. Hari dan minggu yang melegakan, jika bisa saya simpulkan maka saya akan memilih menulisnya dalam beberapa tema gagasan yang berbeda. Tapi satu yang sekiranya dapat merangkung semua dalam satu kesatuan makna ILC-NLC 2013 ini. Pemimpin yang dibutuhkan saat ini adalah pemimpin yang mampu walk the talk. Banyak bicara dan lebih banyak bekerja. Seorang yang sabar untuk belajar, dan keluar di waktu yang tepat saat dibutuhkan. Membangun citra lewat pengabdian yang nyata, membangun kompetensi lewat prestasi yang dipunya. Pemimpin yang dibutuhkan haruslah jujur dan berintegritas, berkomitmen dan cerdas. Untuk menuju satu inti yang satu, menjadi Pemimpin yang Bermanfaat!

Global Leaders, Nusantara Colors! Hidup, Pemimpin Indonesia!

taken from : web Studi Ilmiah Mahasiswa UNS
Foto : Dokumentasi Pribadi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s